Aliyudin Siap Turun Tangan Damaikan Bobotoh dan Jakmania

Mantan pemain Persib Bandung dan Persija Jakarta, Aliyudin, punya hasrat besar untuk ambil bagian dalam upaya perdamaian bobotoh (suporter Persib) dan Jakmania (suporter Persija).

Hal itu dikatakan Aliyudin sewaktu mengunjungi kediaman almarhum Ricko Andrean di kawasan Cicadas, Kota Bandung, Rabu (2/8/2017) kemarin sore.

“Saya sebagai pemain siap dilibatkan karena saya pun pernah bermain di Bandung dan Jakarta dan tahu panasnya,” ujar mantan bomber Pelita Krakatau Steel itu.

“Mau sampai kapan generasi sepak bola kita seperti ini terus? Mudahmudahan ke depannya jauh lebih baik,” ucapnya.

Aliyudin hafal betul rivalitas panas antarkedua suporter. Selain pernah mencicipi atmosfer di kedua klub, pria berusia 37 tahun itu pun tinggal di kawasan Bogor, yang merupakan wilayah rawan konflik kedua suporter.

Sebab itu, ia mengaku siap turun tangan untuk mendinginkan tensi panas dari kedua kubu yang telah berlangsung beberapa tahun ke belakang.

Paling tidak, lanjut Aliyudin, ia bisa mendamaikan bobotoh dan Jakmania di sekitar lingkungan rumahnya.

“Upayanya tentunya mungkin saya juga di Bogor ingin merangkul kedua suporter dengan cara mendamaikan. Rumah saya itu jujur saja di perbatasan, separuh The Jak separuh Viking, dan mudahmudahan dengan adanya kejadian ini mereka bisa saling merangkul agar tidak ada lagi perseteruan. Itu harapan untuk di Bogor sana,” tuturnya.

Legenda hidup Persib dan Persija, Aliyudin, saat menyambangi kediaman almarhum Ricko Andrean, Rabu (2/8/2017)

Ia pun cukup terharu dengan kampanye aksi damai yang telah dilakukan di sejumlah daerah. Melihat adanya iktikad baik dari kedua suporter, ia optimistis perdamaian akan tercipta.

Mantan penyerang Sriwijaya FC itu menilai, sebetulnya hubungan baik telah terjadi di tataran para pengurus kedua suporter. Namun, gesekan kerap terjadi di tingkat akar rumput atau distrik.

Sebab itu, ia pun meminta agar para pengurus kedua suporter untuk membina anggotanya dan menghindarkannya dari upaya provokasi.

“Proses tingkat bawah ini anakanak yang baru, maksudnya anakanak SMP banyaknya yang sering tawuran itu. Saya yakin kalau yang dewasa, yang sudah senior, tidak mungkin seperti itu. Harapan saya, yang senior bisa menjaga anak buahnya atau diawasi terus,” ucapnya.