Akhir Drama Liga 1, Bhayangkara FC Juara

Sebagai tim kuda hitam, langkah BFC menuju podium juara memang tidak mulus. Bhayangkara juara dengan jumlah kekalahan 10 kali. Angka yang terbanyak jika dibandingkan dengan para juara Liga Indonesia format satu wilayah sejak musim 2010/11.

Pada musim 2010/11, Persipura juara dengan jumlah kekalahan dua kali. Satu musim setelahnya, Sriwijaya FC juara dengan lima kekalahan. Persipura kembali juara dengan dua kekalahan di musim 2013.

Keberhasilan BFC menjuara Liga 1 musim ini tidak lepas dari kemengan WO yang diraih dari Mitra Kukar. Duel yang sebelumnya berkesudahan seri itu, akhirnya jadi milik Bhayangkara FC. Komisi Disiplin PSSI menyatakan Mitra Kukar bersalah telah menurunkan pemain yang tengah menjalani hukuman akumulasi kartu, Mohamed Sissoko, saat bertemu Bhayangkara.

Keputusan ini menuai protes. Para pemain berlombalomba mengolokolok Liga 1, termasuk, striker Bali United yang jadi top scorer Liga 1, Syilvano Comvalius. Lewat akun Instgramnya, pemain asal Belanda tersebut menyebut Liga 1 sebagai Indonesian Sirkus League.

Tidak hanya Bali United yang marah. Madura United juga sempat berkomentar pedas terkait keputusan ini yang belakangan menyinggung institusi Polri. Belakangan, perselisihan akhirnya bisa ditengahi melalui mediasi yang akhirnya difasilitasi oleh PSSI.

Kekecewaan kembali mencuat saat Bali United berhasil memenangkan duel terakhir melawan Gresik United dengan skor 30. Selama pertandingan ini, ribuan pendukung Bali United kompak mengenakan pakaian serba hitam sebagai bentuk protes terhadap Liga 1.

“Saya apresiasi terhadap suporter yang pakai baju hitamhitam, ujar Pelatih Bali United, Widodo C Putro menanggapi aksi para suporter tersebut.

Kekecewaan Bali United bertambah karena di laga terakhir, BFC ternyata kalah dari Persija Jakarta. Sehingga bila sebelumnya BFC tidak dinyatakan menang WO atas Mitra Kukar, tentulah para pemain Serdadu Tridatu yang mengangkat trofi juara Liga 1 musim ini.

Karena itu, wajar bila pemainpemain Bali United bersedih saat menyudahi laga. Apalagi peluang mereka sangat terbuka lebar setelah menang dramatis di kandang PSM Makassar.

“Kami yang paling pertama sedih. Bagaimana kita bermain di Makassar taruhannya nyawa. Lemparannya bukan botol plastik lagi, tapi kursi, besi dilempar. Kita juga turut prihatin, tapi pemain harus bangkit. Harus all out, kerja keras untuk ke depannya, tuturnya.

Meski demikian, Widodo menegaskan bahwa pihaknya tidak larut dalam kesedihan terlalu lama. Sebab ke depan, tantangan yang lebih besar justru sudah mengadang mereka.

“Pemain tidak boleh bersedih larutlarut. Kita harus menatap Piala AFC ke depan,” kata Widodo.

Hal senada juga disampaikan oleh bintang Bali United, Irfan Bachdim. Pemain timnas Indonesia ini bahkan sudah tidak sabar menghadapi musim depan. Lewat akun Instagramnya, Irfan pun menyampaikan pendapatnya musim ini dan harapannya musim depan.

“Kita mungkin tidak mendapat piala tapi saya percaya bahwa semua orang di Indonesia tahu siapa juara sebenarnya. Bali United FC! Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada temanteman pemain, pelatih, official, manajemen dan semua pendukung Bali United. Saya sudah tidak sabar untuk memulai kompetisi musim depan. Saya siap untuk pembalasan! Dan disini saya ingin menyatakan bahwa saya masih akan bermain di Bali United musim depan!”