Barcelona Tersingkir, Valverde Dikritik Terlalu Konservatif

Barcelona secara mengejutkan disingkirkan AS Roma di babak perempat final Liga Champions. Sudah unggul 4-1, mereka kandas setelah kalah 0-3 di kandang tim Italia itu, Rabu dinihari WIB. Dengan skor akhir 4-4, Roma lolos berkat keunggulan gol tandang.

Apa yang salah dengan Barcelona?

Harian Spanyol, Marca, menyebut pelatih Ernesto Valverde terlalu konservatif dalam mengatur timnya. Ia terlalu kukuh mempercayai para pemain utamanya, tanpa berpikir untuk melakukan rotasi. Padahal, menjelang akhir musim, rotasi seperti itu sangat dibutuhkan demi menghemat tenaga pemain.

Dalam laga di Olimpico, Barcelona terlihat bermasalah dengan kebugaran dan kesegaran pemain. Tiga gol Roma–dicetak Edin Dzeko, Daniele de Rossi dan Kostas Manolas– jadi bukti nyata. Para pemain belakang Barca gagal berkoordinasi dengan baik dan memberi banyak ruang bagi pemain lawan.

Media itu juga menyoroti pendekatan Valverde di laga itu. Barcelona tak tampil seperti Barcelona yang biasanya. Marca menyebut ini sebagai bukti lain konservatifnya pendekatan Valverde. Pelatih ini lebih berfokus mempertahankan keunggulan ketimbang berusaha mencetak gol.

Ketika mulai kebobolan, Valverde juga dinilai tak berpikir untuk segara memasukkan pemain menyerang. Ousmane Dembele dan Faco Alcacer, misalnya, baru dimasukkan pada menit ke-85, ketika Roma sudah unggul 3-0. Saat itu kondisi sudah sulit ditolong.

Valverde seusai laga itu, mengakui Roma bermain lebih baik dari timnya. “Ketika kalah seperti ini, selalu terasa sulit. Tapi, lawan kami sangat kuat dari awal hingga akhir,” kata dia.

Ia menilai Roma menerapkan tekanan tinggi pada timnya di sepanjang laga. “Kami sulit memainkan gaya kami. Kami tak mampu mengatasi tekanan itu. Waktu tercipta gol mereka sangat penting,” kata dia.

Valverde mengakui Barcelona tampil tak seperti biasanya di laga itu. “Ini hari yang buruk buat kami. Sejujurnya mereka sangat bagus dan kami tidak,” kata dia. “Ini kekalahan yang menyakitkan, tak diragukan lagi. Kami punya hasrat untuk menang, tapi hanya satu tim yang menang pada akhirnya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *