Firman Utina Minta Fatwa Sepak Bola Haram di Tangerang Dicabut

Tangerang Mantan kapten Timnas Indonesia Firman Utina berharap Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang mencabut fatwa haram pada pertandingan sepak bola di Stadion Benteng, Tangerang. Dia menganggap ketiadaan kompetisi profesional membuat sepak bola wilayah tersebut lambat berkembang.

Fatwa haram dari MUI Kota Tangerang berawal pada Februari 2012 usai terjadi pertemuan antara aparat keamanan, MUI Kota Tangerang, serta pengurus dua klub yang bermarkas di Stadion Benteng. MUI Kota Tangerang mengeluarkan fatwa, karena selalu ada tawuran tiap klub Persita dan Persikota melakoni derby.

“Sepak bola bukan haram. Kalau haram, anakanak di SSB (sekolah sepak bola) ini bakal ke mana? Jika ada Persita dan Persikota, motivasi mereka bisa timbul agar bisa bermain sampai sana. Itu hal yang positif,” ucap Firman kepada wartawan pada Sabtu (25/11/2017).

Mantan gelandang Persib Bandung tersebut membuka SSB di Tangerang bersama FU15 Bina Sentra sejak 2016. Fatwa MUI dianggap Firman berbenturan dengan visi dan misi pihakpihak yang ingin mengembangkan sepak bola sejak usia dini seperti dirinya.

Dia mencontohkan, ribuan siswa di sebuah akademi nantinya akan naik kelas untuk membela berbagai klub, mulai Liga 3 level amatir hingga Liga 2. Tak menutup kemungkinan berkiprah di liga profesional di masa depan.

Fatwa haram membuat banyak lulusan SSB kehilangan kesempatan membela tim daerahnya sendiri sejak level junior. Turnamen usia dini juga juga dianggap Firman Utina kurang menjanjikan sebagai batu loncatan pemain masuk ke level klub.

“Kalau tidak ada tujuan, mereka bingung setelah main di akademi akan main di klub mana. Usia dini ini mudahmudahan jauh dari narkoba. Tapi mereka butuh fasilitas,” tutur Firman, yang menghabiskan karier lima musim membela Persita.

“Kalau kita punya Persita Tangerang atau Persikota, anakanak ini punya tujuan dan bersaing untuk jadi pemain terbaik profesional. Mohon dicabut itu fatwa, tolong,” kata Firman Utina.