Ini Biang Keladi Kepanikan di Bursa Saham Tiongkok

Rimanews – Pasar Saham Tiongkok sedang mengalami kejatuhan parah, dengan indeks komposit Shanghai terjun ke titik terendah sejak 17 Maret. Lebih dari 1.300 perusahaan mengajukan penghentian sementara perdagangan atau suspensi. Pemerintah Tiongkok sudah berupaya untuk menghentikan aksi jual saham yang menyebabkan hilangnya kapitalisasi pasar hingga USD 3,2 triliun dalam tiga pekan. Sayangnya, langkah otoritas Tiongkok itu justru memperburuk keadaan. Baca Juga Bangunan Pembangkit Listrik Roboh di RRC, 40 Tewas Korut Minta Pejabat Tiongkok Berhenti Sebut Jong-un Gemuk Dalam Sehari, Warga Tiongkok Habiskan Rp 175 T untuk Belanja Online Pada Rabu (8/7/2015), para pialang terus melakukan aksi jual, sementara investor asing melanjutkan eksodus besar-besaran sehingga menyebabkan Indeks Komposit Shanghai anjlok hingga 3,9% di awal perdagangan. “Pasar sudah gagal. Ini distorsi karena kita terus mengubah aturan ketika sedang melakukan permainan,” ujar Hao Hong, analis dari Bocom International Holdings Co. Seperti diketahui, Bursa Tiongkok merupakan pasar saham yang unik karena investor individu menggerakkan lebih dari 80 persen perdagangan. Sejak dua tahun yang lalu, Partai Komunis yang berkuasa di Tiongkok ingin memberikan pasar andil yang lebih besar pada perekonomian. Langkah itu merupakan bagian dari reformasi besar-besaran yang didorong sejak periode tahun 1990-an. Indeks Komposit Shanghai sempat mencetak rekor tertinggi. Namun, gelembung lonjakan harga saham pun pecah. Pemerintahan Presiden Xi Jinping berusaha keras mencegah kejatuhan harga saham agar tidak menggerus kepercayaan terhadap kepemimpinannya. Otoritas Tiongkok sudah menghentikan sementara proses penawaran saham ke publik (Initial Public Offering/IPO), membatasi pertaruhan melalui indeks berjangka, mendorong perusahaan finansial untuk membeli saham, serta memerintahkan BUMN untuk mempertahankan anak-anak usahanya yang menjadi perusahaan publik. Langkah dramatis diambil otoritas Tiongkok ketika memperbolehkan sekitar 1.323 perusahaan untuk menghentikan sementara perdagangan sahamnya, guna mencegah investor menjual saham. “Ini sangat absurd,” kata Tsumoto Yamada, analis pasar dari Kabu.com Securities Co di Tokyo. “Ini menunjukkan seberapa besar kepalsuan pasar. Mereka yang ingin menjual akan tetap ingin menjual. Ketika mereka memulai lagi perdagangan saham, pikirkan saja seberapa besar aksi jual yang akan terjadi,” tambahnya. “Masalah utamanya adalah intervensi pemerintah jelas memberikan dampak yang negatif. Ada kepanikan di luar sana,” kata Tony Chu, analis dari RS Investment Management Co. Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : Tiongkok , investasi , Ekonomi

Sumber: RimaNews