Rapor Alfred Riedl di Timnas Lebih Bagus Dibanding Luis Milla

Bicara soal taktik permainan yang dikembangkannya, Alfred Riedl sempat berujar:

“Apa yang bisa saya lakukan dengan masa persiapan yang amat sebentar? Anda juga perlu tahu saya hanya bisa memilih dua pemain dari masingmasing klub karena mereka tak ingin terganggu di persaingan kompetisi. Ini yang bisa saya lakukan,” ujar Alfred saat berbincang dengan Bola.com di sebuah hotel di Bogor jelang Piala AFF.

Alfred sejatinya juga tidak benarbenar kaku dengan taktik permainannya. Saat Timnas Indonesia terancam gagal lolos dari fase penyisihan Piala AFF 2016, ia mau lentur merubah pola main dari 442 menjadi 4231.

Bicara soal ketidakleluasaan memilih pemain, Alfred bisa dibilang sukses menemukan komposisi tim yang solid. Ia bahkan bisa dibilang berani melakukan evolusi, dengan memasukkan namanama baru.

Bayu Pradana, Manahati Lestusen, Hansamu Yama, Evan Dimas, pemain muda yang dapat porsi besar di skuat Timnas Indonesia Piala AFF 2016. Tak ada lagi pemain uzur macam Cristian Gonzales, Firman Utina, atau Supardi, yang hampir 10 tahun terakhir jadi pelanggan timnas.

Bagaimana dengan Luis Milla?

Berbeda dengan Alfred, ia lebih punya keleluasaan memilih pemain. PSSI sampai membuat regulasi mewajibkan setiap klub memainkan tiga pemain U23 agar sang nakhoda bisa leluasa membentuk fondasi Timnas Indonesia U22.

“Sesi latihan yang dilakukan Luis Milla bermutu tinggi. Para pemain banyak disodori halhal baru. Hal ini belum ada sebelumnya,” ujar Danurwindo, Direktur Teknik PSSI.

Walau Milla juga dihadapkan situasi kurang mengenakkan dengan kegagalan PSSI menyajikan uji coba berkelas jelang SEA Games. Timnas Indonesia U22 bahkan gagal menggeber pelatnas di Spanyol garagara pendanaan.

Hasilnya, Timnas Indonesia U22 harus puas menduduki posisi tiga besar, setelah kalah dari Thailand di fase semifinal. Ini terjadi usai SEA Games timnas masih dieluelukan publik sepak bola Tanah Air.