Menpora Hadir di Atambua untuk Acara Membangun Harapan di Tanah Perbatasan

Menpora Imam Nahrawi saat berdiskusi dengan masyarakat, tokoh dan pejabat di Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (5/12). Foto: Humas Kemenpora RI BERITA TERKAIT Menpora Ingin PPI Ikut Perangi Narkoba dan Terus Berkarya Menpora Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW Bersama Ratusan Anak Yatim Piatu Penasehat DWP Kemenpora Shobibah Rohmah Ingin Poco-Poco Terus Hadir di Masyarakat Menpora Buka Pameran Fotografi Olahraga “Atmosphere” Road to Asian Games 2018 INDOPOS.CO.ID – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, Senin (5/12) tiba di Bandara A. A. Bere Tallo, Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT), pukul 10:30 WITA. Kehadiran Menpora yang didampingi Plt Deputi Pengembangan Pemuda Jonni Mardizal dan Asdep Kemitraan dan penghargaan Olahraga Dwijayanto Sarosa Putera disambut oleh Bupati Belu Willybrodus Lay dan beberapa jajaran muspida daerah setempat. Dari bandara Menpora melanjutkan perjalanan ke Rumah Dinas Bupati. Tiba di Rumah Dinas Bupati, Menpora RI di sambut oleh Menpora Timor Leste Leovigildo Hornai yang langsung dilanjutkan acara Baomong Bola untuk Membangun Harapan di Tanah Perbatasan. Dalam acara tersebut Menpora Imam Nahrawi mengatakan tahun 2017 kita sudah menganggarkan untuk lapangan desa, kurang lebih sekitar 198 miliar. “Saya berharap program lapangan desa ini bisa kita dimaksimalkan lebih baik lagi. Program lapangan desa ini bukan seperti lapangan Sekolah Sepak Bola (SSB) Bintang Timur (BT) yang di miliki Fary Francis pendiri SSB BT. Program lapangan desa ini merupakan revitalisasi lapangan yang sudah ada di kecamatan dan desa. Program lapangan desa dananya tidak banyak, kira-kira 190 juta rupiah perdesa. Saya berharap dengan anggaran yang kecil ini maka akan mendorong pihak swasta untuk turut serta mengembangkan lapangan desa yang lebih baik dan memadai lagi,” kata Imam. Imam menjelaskan, program lapangan desa bukan semata-mata kita berikan untuk revitalisasi tapi juga bisa dimanfaatkan dengan baik, terkelola dengan baik dan tentunya menjadikannya bagian dari rangkaian pembinaan usia muda yang kemudian secara paralel dilakukan kompetisi secara berjenjang. “Dulu kita punya Liga Desa sekarang namanya Gala Desa. Kabupaten Belu NTT akan menjadi contoh bagi daerah lainnya, untuk mengulirkan Liga perbatasan, hal ini akan memberikan ruang kepada kelompok-kelompok sekolah maupun klub-klub yang ada di kampung-kampung perbatasan antar negara untuk ikut bertanding dan ini harus di kita gulirkan,” tambah Imam Imam berharap bisa segera dilakukan karena tidak ada diplomasi apapun yang melebihi diplomasi olahraga. Karena dengan olahraga maka tidak ada lagi sekat dan sebagainya. Olahraga menyatukan perbedaan. Mereka akan berkumpul saat olahraga dan kalau sudah berolahraga maka yang muncul sportivitas persahabatan kemanusiaan. “Saya sepakat bahwa olahraga merupakan entry point untuk kita bisa membina persahabatan dan rekonsiliasi yang selama ini kita bina dan kita perlu promosikan dan tegaskan kongkritnya. Kami akan mendukung semua kegiatan yang diinisiatif oleh Menpora RI maupun oleh Bupati dan jajarannya serta inisiatif-inisiatif yang sudah dijalankan. Saya berasumsi NTT punya industri bola yang bagus. Kemarin ada beberapa klub sudah menawari pemain bola kepada kami,” Menpora Timor Leste Leovigildo Hornai. Bupati Belu Willybrodus Lay mengatakan, kami di Kabupaten Belu sangat senang karena ada dua menteri bertemu di sini. “Belu artinya tanah bersahabat jadi bersahabat untuk kita sekalian dan hari ini di tanah sahabat ini bertemu dua orang Menpora yaitu dari Timor Leste dan Republik Indonesia. Saya berharap pertemuan 2 Menpora ini bukan sekedar sebuah pertemuan seremonial saja tapi akan melahirkan sesuatu ide yang besar untuk kedua negara sehingga tali silaturahmi untuk kedua negara bisa dibangun lebih erat dan lebih kokoh lagi,” ujar Bupati Belu. “Kehadiran sekolah bola kaki ini menjadi salah satu icon daerah Belu yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Timor Leste. Ini menjadi kebanggaan kami karena memiliki sekolah ini, oleh karena seluruh masyarakat Belu harus mendukung keberadaan sekolah sepak bola bintang timur ini,” pinta Bupati. Pendiri SSB BT, Fary Francis mengucapkan terima kasih kepada Menpora yang sudah datang ke Kabupaten Belu. “Saya tahu persis bagaimana jadwalnya pak menteri tiga hari lalu beliau masih ada di Madrid di Spanyol Kemudian ke Bali membuka kejuaraan dunia pencak silat, kurang lebih sekitar 49 negara. Saya terus berkomunikasi selama di Madrid juga di Bali untuk bisa hadir di tempat ini dan bersyukur para menteri bisa bersama-sama dengan kita semua atas nama seluruh masyarakat di khususnya di Belu mengucapkan terimakasih,” ucapnya. “Ini sebagai tanda kebangkitan dan semangat membangun sepak bola nasional dimulai dari daerah. Khususnya daerah perbatasan. Mari kita bangun sepakbola NTT mulai dari usia dini. Kalau NTT mau lolos ke PON 2020, harus dimulai dari sekarang. Kami dari SSB Bintang Timur akan membantu menyediakan pemain,” tambah Fary. (rmn) Editor : Ali Rahman

Sumber: Indopos