Rumah Gerakan 98 Kecam Aksi Kekerasan Jurnalis

Singapore 4d Jakarta – Rumah Gerakan 98 menyesalkan terjadinya intimidasi hingga aksi kekerasan terhadap sejumlah pekerja jurnalis dalam peliputan aksi damai 4 November 2016 lalu. Dalam aksi damai, sejumlah pekerja jurnalis mendapatkan perlakuan yang tidak seharusnya. Tercatat sedikitnya ada beberapa pekerja jurnalis yang sudah menjadi korban. Diantaranya pengusiran kendaraan operasional milik salah satu stasiun televisi swasta, kekerasan terhadap jurnalis beritasatu TV , hingga pemukulan terhadap seorang jurnalis Kompas TV , Muhammad Guntur. “Tindakan kekerasan terhadap jurnalis adalah cara-cara premanisme yang merupakan tindakan pidana dan pelanggaran hukum. Sebab, jurnalis dalam kegiatan jurnalisnya dilindungi UU,” kata Juru bicara Rumah Gerakan 98 Sayed Djunaidi, Senin (7/11) di Jakarta. Rumah Gerakan 98 mengecam keras aksi pemukulan dan meminta Kepolisian Republik Indonesia serius menangani aksi kekerasan wartawan. Alasannya, ada upaya penghalangan kerja jurnalistik sebagai mana diatur dalam UU No 40/I999 tentang Pers. Sayed menjelaskan, dalam UU pers Pasal 18 ayat 1 disebutkan, “Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp500.000.000, 00 (lima ratus juta rupiah). ” “Kami mengimbau masyarakat untuk memahami kerja jurnalistik yang sejatinya merupakan perwujudan dari pemenuhan hak masyarakat untuk memperoleh informasi. Bila jurnalis dihalang-halangi, hal itu berarti menghalangi pula hak masyarakat untuk mendapatkan informasi,” ujarnya. Yeremia Sukoyo/WM Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu