Tingkatkan Likuiditas, Bank Siapkan Penerbitan Surat Utang

Sports Okezone Jakarta – Sejumlah bankir menilai peluang untuk menerbitkan surat utang cukup besar dan meningkat pada 2017. Pasalnya, bank berupaya menjaga struktur pendanaan dan posisi loan to funding ratio (LFR) di samping mencari alternatif dana yang lebih murah. Direktur Keuangan dan Treasury PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Iman Nugroho Soeko mengatakan, alternatif pinjaman bilateral maupun penerbitan surat utang tetap dipersiapkan perseroan untuk pemenuhan dana pada tahun depan. Namun, BTN juga akan memperhatikan instrumen mana yang lebih ekonomis atau murah secara biaya untuk dipilih. Berkaitan dengan surat utang, pada Agustus lalu emiten berkode BBTN ini menerbitkan penawaran umum berkelanjutan (PUB) II Tahap I sebesar Rp 3 triliun dari total plafon sebesar Rp 6 triliun. “Poin utama adalah kami mencari biaya dana (cost of fund) yang termurah atau efisien. Kalau sampai Juli, LDR (loan to deposit ratio) BTN sebesar 107,23%, LFR 102,16%, dan porsi wholesale funding kami sebesar 16,64%,” ujar dia di Jakarta, Selasa (13/9). Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Bukopin Tbk Glen Glenardi menuturkan, setiap kali pemerintah kita mengeluarkan surat berharga negara (SBN) pasti berpengaruh terhadap likuiditas perbankan. Apalagi bila imbal hasil yang ditawarkan SBN jauh lebih tinggi. Bank Bukopin baru mencatatkan medium term notes (MTN) sebesar Rp 268 miliar menjelang akhir Agustus 2016. Berdasarkan laporan keuangan, LDR perseroan mencapai posisi 91,27% pada semester I-2016. “Untuk jaga LFR (tahun 2017), tampaknya kami lebih pada MTN (dibanding bonds),” ungkap dia kepada Investor Daily. Secara terpisah, Direktur Utama PT Bank Panin Tbk Herwidayatmo mengungkapkan, belum lama ini perseroan memperoleh persetujuan untuk menerbitkan PUB dengan total plafon sebesar Rp 10 triliun dengan batas waktu hingga tahun 2018. Sejauh ini, perseroan baru mengemisi PUB sebesar Rp 2 triliun. “Ke depan, kami pasti akan memanfaatkan persetujuan PUB itu semaksimal mungkin,” ujar dia. Mengutip dari laporan keuangan Bank Panin, sampai Juni lalu posisi LDR mencapai 91,27%. Sementara, menurut Herwidayatmo, saat ini kondisi LFR Bank Panin di kisaran 90,6-90,7%. Terkait upaya pemenuhan sejumlah industri keuangan nonbank (IKNB) untuk menyesuaikan porsi minimum investasi di surat berharga negara, dia mengaku, tidak khawatir hal tersebut dapat mengganggu kondisi likuiditas. Namun, menurut Herwidayatmo, bank juga perlu berinovasi. Direktur Utama PT Bank OCBC NISP Tbk Parwati Surjaudaja juga menilai, upaya pemenuhan investasi di SBN oleh lembaga jasa keuangan perlu dicermati. Dia menegaskan, kondisi likuiditas perbankan tidak perlu dikhawatirkan. “Kalau mengenai rencana emisi PUB, opsi terbuka untuk hal tersebut tapi perseroan perlu juga melihat kondisi pasar,” jelas dia. Sementara itu, terkait penerbitan surat utang oleh bank, Equity Research PT Mandiri Sekuritas Tjandra Lienandjaja memprediksi tahun depan ada kecenderungan bank akan meningkatkan porsi whole sale funding mereka, untuk menjaga struktur likuiditas. Tren itu juga sebenarnya jelas dia, sudah terjadi belakangan ini. Contohnya, melihat penerbitan obligasi yang dilakukan bank badan usaha milik negara (BUMN). “Biaya bonds memang lebih tinggi dibanding deposito, tapi (instrumen) tersebut lebih secure (aman) di muka sehingga lebih mudah bagi bank untuk menghitung. Di samping itu, sekarang kan rasio yang dilihat bukan lagi LDR, tapi LFR yang mencakup surat utang yang diterbitkan,” jelas dia. Sementara itu, mengenai wholesale funding, belum lama ini Direktur Treasury PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Panji Irawan mengungkapkan, saat ini porsi pendanaan perseroan di luar DPK mencapai 10%. Hanya ke depan, masih ada ruang bagi BNI untuk memperbesar pendanaan nonkonvensional ke angka sekitar 15%. Sebelumnya Direktur Keuangan dan Treasury PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Pahala N Mansury juga mengatakan, perseroan berniat memperbesar komposisi wholesale funding dari 4% menjadi 8% pada 2018 atau 2019. Berdasarkan laporan keuangan pada Juni 2016, posisi LDR Bank Mandiri di level 87,19%, sementara BNI di posisi 91,40%. Devie Kania/ARS Investor Daily

Sumber: BeritaSatu